Melaka H1 : Masa iya kita kalah?

Ada yang aneh pagi itu.

Saat itu sy dan Azmi sedang istirahat di Masjid Kampung Hulu, Masjid tertua di Melaka, setelah lelah berjalan menyusuri tiap sudut yg mampu kami jangkau di daerah “china town” di sekitr Jonker walk. Sebenernya pingin sekalian sholat dhuha di situ, tapi.. tadi udah di masjid Kampung Kling (another old mosque). Akhirnya kami hanya duduk duduk di dalam, sambil menikmati semilir angin dan uniknya arsitektur masjid ini.Ya, masjid ini mengingatkanku pada masjid-masjid tua di Jawa. Sentuhan gaya Jawa-nya itu kerasa sekali. Namun, secara kasat mata, masjid ini juga seperti ada sedikit sentuhan chinanya.

Tiba-tiba ada bapak-bapak yg menyapa dan mengajak kami ngobrol. Dari situ kami tau kalau Bapak tersebut adalah penjaga masjid ini. Ya kami tanya-tanya sedikit ttg masjid ini, terutama kolam yg ada di depan masjid. Karena, di masjid sebelumnya juga ada kolam serupa dg itu. Beliau pun menjelaskan jika itu digunakan utk berwudhlu. Meskipun di situ juga telah disediakan kran air, masyarakat yg hendak sholat biasanya lebih memilih berwudhlu dr kolam tersebut menggunakan gayung yg memang telah disediakan.

Saat sedang asyuk mengobrol, tiba-tiba ada 2 orang ibu-ibu china, yg akan masuk ke dalam masjid. Melihat itu si Bapak menyapa dan terjadilah percakapan menggunakan bhs melayu yg entah knapa sy tidak paham saat itu apa yg mereka bucarakan. Sy tertarik sekali dg dua ibu-ibu itu, karena mereka hanya menggunakan kaos pendek, celana 7/8, dan selendang yg digunakan untuk tutup kepala ala-ala. Jadi saya amati terus apa yg mereka lakukan.

Pertama, mereka masuk ke masjid. Kemudian mereka mengeluarkan sejumlah uang dr saku celana mereka, dan memasukkannya ke dalam kotak infaq yg terletak tidak jauh dari saya duduk. Setelah itu mereka mengambil posisi di tengah, di shaf belakang, lalu duduk, dengan posisi selayaknya duduk tahiyat akhir. Kemudian mereka menangkupkan tangan mereka masing-masing dan memejamkan mata. Persis seperti bentukan orang jika berdoa di kuil. Setelah di rasa cukup, mereka berdiri dan pamit kpd Bapak penjaga masjid dan sedikit percakapan yg sy ga tau juga. Dari nada bicara dan mimik wajah, dapat disimpulkan kalau mereka saling kenal.

“Muslim?”, Tanya sy ke bapak itu.

“Bukan..” jawab si Bapak.

“Lah, lalu itu tadi apa?”

Menurut si Bapak, memang mereka biasa melakukan itu. Memasukkan uang ke dalam kotak infaq kemudian berdoa. Mereka warga china yg tinggal di sekitar masjid. Mungkin sepertinya, karena ini adalah masjid tertua di Melaka, mungkin mereka berpikir berkahnya besar jika berdoa dan beramal (sedekah uang) di sini.

Wow.. speachless saya. Masih ga percaya dengan apa yg terjadi barusan. Saya merasa sangat tertohok. Mereka aja, yg bukan muslim, datang ke masjid lho.. bersedekah dan berdoa, meskipun entah apa yg ada dibenak dan hati mereka, entah mereka berdoa kepada siapa.

Tapi, mereka aja ke masjid lho..

Mereka aja sedekah lho..

Mereka aja berdoa dg sangat khusyu’ lho..

Sy bingung sih sbenernya mau bilang apa, yg jelas saat itu ada yg ngganjel banget di hati..

“Masa iya sih, kita kalah sama mereka?”

——- End——-

Maret, 2017
Catatan “Backpacker to Malaysia-Thailand”

Advertisements
This entry was posted in adventure, Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s