Terdampar di Kaltara (Part 1. Tanjung Selor)

Ada yg sedang di Kalimantan Utara (Kaltara)? Atau ada rencana mau ke Kaltara tapi buta alias ga tau apa2 ttg tempat ini? Ya, itu sama dengan saya 3 tahun lalu hehe. Makanya, kali ini saya ingin mengulas sedikit tentang Kaltara, khususnya Tanjung Selor, supaya banyak yg kenal sama dia 🙂

Kaltara ini merupakan hasil pemekaran dari bbrp kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Timur yaitu Kab. Bulungan, Kab. Nunukan, Kab. Malinau, Kota Tarakan. Akan tetapi, menurut UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (duh sok-sokan ngmongin undang2), untuk membentuk suatu provinsi baru salah satu syaratnya harus memenuhi syarat fisik kewilayahan yaitu minimal harus ada 5 kab/kota. Entah memang sudah direncanakan atau kebetulan terjadi seperti itu (sy berlepas dari itu, hehe..), tahun 2007 dilakukan pemekaran 3 kecamatan di Kab. Bulungan, sehingga terbentuklah wilayah administrasi baru yaitu Kab. Tana Tidung. Singkat cerita (karena sebenernya cerita pembentukan prov baru tu ga sesimpel itu yg kalau diceritain ga bakal selesai satu postingan, dan sebenernya sy jg ga tau ding detilnya gimana), tahun 2012 Kaltara resmi berdiri sendiri menjadi Provinsi ke-34 di Indonesia. Nah, jadi Kalatara ini terdiri atas 4 kabupaten dan 1 kota (Kab. Malinau, Kab. Nunukan, Kab. Tana Tidung, Kab. Bulungan, dan Kota Tarakan). Ibu kota Kaltara adalah Tanjung Selor yg berlokasi di Kabupaten Bulungan.

Alhamdulillah, ga pernah nyangka kalau sy dikasih kesempatan sama Allah buat ngunjungi provinsi paling utara di Indonesia ini, bahkan sampai 2x lagi, meskipun bukan untuk travelling melainkan urusan tugas, yaitu tahun 2014 dan 2016. Nah, dua-duanya kebetulan di Tanjung Selor semua jadi rasanya udah sok ngerti gitu. Gimana ga familiar kalau tiap hari kerjaannya muter2in Tanjung Selor dari ujung utara ke selatan, barat ke timur hahaa. Tapi, sy tauna ya cuma yg di sekitar kantor2 pemerintahan aja sih. 

Gambaran Umum Kondisi Tj. Selor

Waktu pertama kali datang ke sini..

kaltara dari pesawat 2014

Kab. Bulungan dari atas pesawat

Bisa bayangin kan, kalau dari udara aja penampakannya ky gitu? Dominasi hutan dan sungai. Kalau dari atas aja sungainya lebarnya segitu, aslinya jelas lebar banget dah. (mulai katrok Jawa-nya muncul, maklum di Jawa kagak ada yg kayak gitu) gatau

Waktu muter-muter ke seluruh jalan-jalan utamanya..

……Ziiiiing…… (efek kalau di komik2 gitu lho),

kok sepi ya.. haha.. serius sepi banget. Apalagi kalau udah maghrib. Padahal nih ceritanya kalau sore atau malam gitu kan saya selo ya, jadi sama temen udah niat banget buat jalan2 malam sambil cari makan. Tapi.. yg di dapet cuma penyetan Lamongan gitu, itupun harus jalan cukup jauh dan horornya jalanannya sepi ngeeetsss. Ga ada namanya pejalan kaki malam-malam kayak saya dan temen sy gitu.. perempuan lagi.

Tapi, namanya jg ibu kota ya pembangunan mesti berjalan cepet yaa, terutama infrastruktur. Dan dengan berubahnya Bulungan jd Ibu kota, sudah otomatis kepadatan penduduknya meningkat, dan itu terlihat sekali perbedaan di dua tahun tsb. Tahun 2014, jalanan sungguh sangat lenggang. Naik motor bisa was wus was wus lebih lenggang dr jalan Tol. Padahal jalan2 di Tanjung Selor cukuplah lebar. Tahun 2016, jalanan sudah cukup ramai. Begitu pula warung2 dan pertokoan sudah semakin beragam. Perkantoran sdh mulai dibangun, meski blm selesai. Dan yg jelas pegawai Dinasnya sudah mulai banyak,, dulu mah masih sdkit dan seadanya. Di tepi Sungai Kayan pun skrg sdh dibangun pedestrian dan taman yg dihiasi lampu2 jalanan. Baguuss.. hiduplah suasana tepi sungai yg dulu sepi biasa aja.

Transportasi Umum

Awal ke sini, saya mulai dari Bandara Tanjung Harapan, Tanjung Selor. Bandaranya sederhana banget, karena memang hanya digunakan untuk pesawat kecil (ex: Kalstar) yang melayani rute jarak dekat.

Saat keluar dari bandara, seperti biasa nanti banyak bapak2 yg mendatangi para penumpang untuk menawarkan taksi. Nah, karena saat itu di tahun 2014 kami tidak tau apa-apa ttg daerah ini dan informasi di Internet juga sangat minim, kami sempat nanya-nanya dulu lokasi hotel kami (Hotel Crown) kepada bapak itu dan katanya jauh dari Bandara, makanya kami langsung mengiyakan tawaran si bapak dengan tarif Rp 50.000, dari Bandara menuju Hotel. Tarif itu akan kami sesali nantinya karena jarak Bandara dan Hotel cukuplah dekat (tidak lebih dari 1,4 KM) dan taksi yg membuat kami syok. Tapi meski begitu, si sopir taksi ini (Bapak Antok namanya) nantinya bakal jadi teman setia kami arabian.

Jangan bayangkan taksi menggunakan mobil sedan mewah ya. Taksi di sana itu adalah sebutan untuk mobil angkot, yaa kayak angkot mini yg ada di Jakarta atau Bandung gitu. Menggunakan mobil jenis carry (mini) yg sudah tua sekali. Transportasi umum darat di sana hanya ada angkot itu, dan seingat saya saat itu mereka tidak punya rute tetap, jadi mereka bisa beredar di mana saja. Tahun 2014, pernah naik itu, dari hotel ke Pujasera (tepi sungai Kayan dekat Dermaga) tarif sekali jalan 10.000/orang. Tapi saya kurang tau tarif ini tarif tetap atau disesuaikan jarak. Nah, sayangnya, karena jumlah penduduk Tanjung Selor ini juga tidak banyak, sehingga angkot ini pun jumlahnya juga tidak banyak, tidak tentu apakah akan lewat di jalan depan hotel kita atau tidak, dan tidak tentu juga waktunya. Random. Penduduk lokal lebih suka menggunakan sepeda motor atau mobil untuk transportasi harian. Sehingga susah juga kalau kita bergantung pada angkot di sini, apalagi kalau kita butuh mobilitas tinggi.

Bus Kota? Tidak ada bus kota di Tanjung Selor. Tahun 2014 saya bertanya kepada pihak dishub ttg angkutan umum di sini, terutama bus kota kenapa tidak beroperasi, padahal ada terminal bus di sana. Menurut penjelasan mereka, terminal yg ada itu digunakan untuk bus antar kabupaten, namun karena jarak terminal yang cukup jauh dari pusat, masyarakat enggan menggunakan bus bila ingin bepergian ke luar kabupaten/provinsi karena tidak cost-effective. Misal, dari rumah mereka harus keluar uang untuk naik angkot ke terminal yg jaraknya cukup jauh, setelah itu keluar uang untuk bus. Harga yang mereka bayarkan tidak jauh berbeda dengan apabila mereka naik angkutan plat hitam (travel), sehingga travel menjadi pilihan tepat jika ingin bepergian jauh. Travel di sini itu hanya menggunakan mobil biasa (ex: avanza) bukan minibus. Singkat kata, bus tidak laku di sini, sehingga terminal yg ada hanya terbengkalai.

Kaltara yg memang dilalui sungai-sungai besar sudah pasti membutuhkan transportasi air untuk menyeberang. Sebenarnya, dg transportasi darat pun bisa karena ada jembatan, namun jembatan letaknya cukup jauh, jika warga hanya butuh menyeberang saja, akan sangat tidak efisien jika harus “ngalang” melalui jembatan. Moda transportasi air ini penting sekali di sini, karena kecamatan-kecamatan di Bulungan dipisahkan oleh sungai-sungai besar, sehingga memang sehari-hari mereka tidak bisa lepas dari sungai.

Transportasi air yg murah meriah namanya ketinting. Ini hanya digunakan untuk menyeberang sungai (jarak dekat). Meskipun kecil, ketinting ini bisa muat untuk sepeda motor juga lho. Saya yg ga terbiasa dg sungai, ngeri aja liatnya pas motornya masuk/keluar ketinting sambil dinaikin. Jika ingin bepergian jauh antar kota/kabupaten misalnya yg harus melalui laut maka bisa menggunakan speed boat kecil/besar. Orang sini nyebutnya sepit.

Itu mbaknya bisa muter-muter Tanjung Selor naik apa?

Karena saya dan teman saya butuh mobilitas tinggi sekali, melebihi jadwal patrolinya polisi, sehingga kami tidak mungkin mengandalkan taksi yg entah kapan datangnya dan kami ga mau buang2 duit. Alhasil, hari pertama kami langsung mencari rental motor. Hasilnya? Nihil. Ga ada rental motor di tempat iniiiiiiiii toloong jurus_berputar_1000_bayangan Saat itu kami nanya resepsionis, tapi ga tau, lalu nanya pak satpam hotel dan dia bilang ga ada. Kami tanya2 teruslah si bapak satpam ini buat ngasih kita solusi gimana caranya kita bisa ada motor buat sehari-hari. Akhirnya, mungkin karena ngeliat muka kita udah melas gitu, dia bersedia menyewakan motor pribadinya untuk kita, syaratnya cuma sampai jam 5 sore karena dia harus pulang setelah itu. Yaaaah,, rugi banget sih, harga sewanya Rp 150.000/hari tapi kita cuma bisa pakai dari pagi – sore doang. Padahal malam kan kita butuh keluar buat beli makan. disawat. Tapi daripada ga ada sama sekali alhamdulillah ada motor 1 buat berdua.

Good news, saat balik ke Tanjung Selor 2016, kami kontak dulu Pak Antok (inget kan sopir taksi yg sy ceritakan di atas? alhamdulillah sy masih nyimpen kontaknya meski 2 thn berlalu) untuk minta bantuan nyariin sewa motor. Hasilnya? Daebak! Sesampainya di Tj. Selor, motor udah ready. Kalau ga salah sih punya teman2nya beliau. Moral dr kisah ini adl: Menjaga hubungan silaturrahmi itu emang penting banget guys.. bahkan dg seorang supir angkot sekalipun.. baru krasa klo momennya pas kesusahan gini. 

Budget Makan

Kita ga bisa hidup tanpa makan Sob. Jadi, saya ulas sedikit menu makan di sini. Saya sering tanya sama orang-orang dinas di sana, “apasih menu khasnya Kaltara?” dan mereka ga pada tau. Wehehehe.. usut punya usut mereka kebanyakan adalah pendatang dari Kaltim atau Kalteng jadi sama-sama baru tinggal di Kaltara. ealaaah. Tapi selama sy mencicipi makanan di Tanjung Selor menu makanannya sama aja kok kayak di Jawa. Ga beda jauh. Tapi harganya beda jauh sama di Jogja.

Sekali makan, 15.000 itu udah murah banget. Mau yang agak enakan harganya 20.000an. Kalau mau yang enak harganya bisa 30.000an ribu. Kalau yg tinggal di Jakarta atau Surabaya mungkin ga terlalu beda harganya, tapi kalau yg tinggalnya di Jogja kayak saya, wuiiih kerasa bener harga makanan kaki lima di sini udah kayak harga makanan cafe di Jogja. Daaan yang perlu diwaspadai adalah porsi makanannya besar sekali untuk ukuran wanita. Kami sih kalau pesen nasi cuma 1/2 porsi atau 1 berdua biasanya.

Beberapa makanan yg pernah saya beli:

a. Penyetan khas Lamongan, menu standar sprt tempe, tahu, ayam, bebek. (serius ini banyak banget di pinggir jalan kalau malam).

b. Nasi goreng, sy lupa ini di warung Lamongan atau bukan, yg jelas warung tenda gitu jg.

c. Warung makan pinggir jalan depan hotel (lurus terus) ada macem2 warung yg jd satu gitu.. Ada Ayam atau ikan goreng tepung. (Nah, menu goreng2 tepung tepung ini banyak kalau siang hari), soto ayam (soto ayamnya enak cyiin), dll lupa saya..

makan soto

Siang-siang segarkan dg Es Kelamud

IMG-20140319-WA0005

Sotonya juara lah ini enak banget!!

d. Bakso atau mie ayam. Sy pernah nyobanya mie ayam, ini baru nyoba thn 2016.

e. Ikan bakar/udang/sate/dsb. Lokasi di Warung ETAM deket Pujasera dan Dermaga Sungai Kayan. Waktu itu malam kesekian, iseng-iseng nyoba di sini, pas nanya harganya wuiiiidih mahal, soalnya porsi besar lebih enak kalau ramai2. Kalau sendiri jatuhnya mahal. Akhirnya pesen ayam bakar kalau ga salah. (ealah jauh2 ke tepi sungai cuma mau makan ayam). Ini kalau ga salah kita habis lebih dari Rp 50.000,00 berdua. Terus kapok ga mau makan lagi di sini heuheuu..

makan ayam bakar pujasera

Ayam Bakar di Warung Etam

Nah, tapi rejeki emang ga kemana kok.. Kesampaian juga makan di warung Etam dengan menu ikan dan teman-temannya yeaaaah.. ada bos -nya sih jadi selow aja. Klo ga, ga bakal kami beli menu makanan ini, mahal, bukan masalah ga punya uang, tapi ga tega pake uangnya, uang negara gituu.

Setiap pembelian makan di sini, pembeli dapat free kuah sup. seger banget cocoklah untuk menetralkan rasa dari menu yg berat. Menu udangnya endeeesss banget dah..dagingnya itu looh tebel banget, TOP lah hula-hula_hahaha . Menu lainnya yg lebih beragam sy coba saat ke sini lagi kedua kalinya tahun 2016. Karena personilnya banyak, berkali-kali lipat.. kita jadi pesan berbagai menu jadi bisa saling icip. hehe.. ini tips hemat kalau mau ngrasain banyak menu makanan mata_duit .

etam 2

Makan besar bersubsidi haha

f. Warung Bakmi Raos. Menunya komplit-plit… dan tempatnya nyaman.. di deket lapangan olah raga gitu. Tempat makan ini cukup strategis karena berada di dekat ruang publik dan kantor pemerintahan (Dinsos, Damkar, Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Kesbangpol, Linmas, terus kayaknya ada Badan Arsip Daerah juga). Ni tempat favorit banget lah, sambil nunggu orang2 SKPD sambil leyeh2 makan di sini dan ngadem. Warungnya tuh ga rame jadi nyaman. Menu yg pernah saya makan dan favorit adalah Sapo tahu seafood, sapo tahu ayam yang pas banget rasanya. Kayaknya pernah juga makan kwetiau dan ifumi tapi masalahnya adalah porsinya yg besar, lagi2 pesen 1/2 porsi nasi atau kadang satu berdua.

menu_menu 2

g. Menu Hotel

Kalau masih punya tenaga buat pergi ke luar cari makan, mending beli makan di luar daripada beli di hotel. Udah haranya muahaal, rasanya juga biasa aja sih. Nah, ceritanya kita seharian udah bad mood dan capek tak terkira. Mana ga ada motor kalau malam hari, makin bad mood kan? Akhirnya sy dan partner, milih pesen makan di resto hotel tempat kami tinggal. nentuin makan aja bingung karena saking mahalnya, ga tega kami, tapi kami butuh makan. Karena biasanya kami menghemat makan, dan kadang sehari cuma makan 2x karena saking ga sempetnya, akhirnya kami memutuskan untuk tidak masalah berfoya-foya sekali ajaaaa… beli pizza lah kita malam itu dengan harga kalau ga salah Rp 80.000 (beef black pepper ukuran 6 slice).

pizza

Ada lagi momen kita butuh untuk memanjakan diri dengan menu hotel. Saat sore2 udah lelah, kita harus nyariin hotel buat Bos karena hotel t4 kami tinggal sudah full-booked. Nah, deket Bakmi Raos sekitar 400m ada hotel kecil, tapi cukup bagus sih dari luar, modern gitu bagunannya, akhirnya kami cek kamar di situ dan alhamdulillah masih ada kamar dengan budget yg sesuai. Nah, pas temen saya ngurusin booking, saya ngliat samping meja resepsionisnya itu langsung dapur cafe-nya. Hm.. liat2 menu dan kayaknya enak. Menu ala cafe gitu, duh mulai kambuh penasarannya. Akhirnya rembugan sama temen mau ga makan di situ aja? biar ntar malem ga perlu keluar cari makan? Eh, dianya mau.. yaudah..pesen deh. Kalau ini saya lupa harganya berapa, kayaknya standar sih.. kayak menu2 di Bakmi Raos.

la cafe

Sebenernya masih ada lagi menu-menu makanan yang pernah saya coba. Intinya rasanya masih sama lah dengan lidah jawa, cuma harganya yg lebih tinggi, jadi harus pinter-pinter menyiasati biar ga jebol kantongnya.

Jaringan Telepon 

Jangan harap bisa pakai 3 di tempat ini hahaha. Kalau mau stabil dan internet kenceng pakailah Telkomsel. Simcard asli saya XL, dulu tahun 2014 krn HP nya masih samsung 1 slot card, jadi langsung beli simcard baru di sana. Nah pas 2016, karena udah ganti HP dan bisa dual simcard, saya coba pakai XL awalnya. Em.. kalau di dalam kamar internetnya ga bisa dipake, tapi kalau diluar sedikit bisa dipakai tapi putus-putus. Akhirnya menyerah juga dan beli Telkomsel.

Masjid

Oiya, saya mau cerita tentang masjid. Di sini Masjidnya besar-besar dan megah. Lokasi masjid satu dengan yang lainnya pun berdekatan. Saya heran, padahal penduduk Tj. Selor itu tidak terlalu banyak, tapi di sini masjidnya buanyak. Alhamdulillah sih sebenernya, cuma jadinya kalau pas waktu sholat keliatan kosong, sedikit sekali jama’ahnya. Biasanya saya sholat di masjid kalau Dzuhur dan Ashar. Semoga saja Kalau Maghrib dan Isya ramai ya 🙂

Masjid 3

Kalau tdk salah ini Masjid di dekat Sungai Kayan. Tipe masjid2nya tuh kayak gini, besar dan berwarna-warni

Kebetulan sekali, waktu tahun 2016 lalu, passss banget bertepatan dengan momen gerhana matahari total yg langka itu dan hanya melalui beberapa lokasi aja di Indonesia. Salah satunya Pontianak. Ya.. Kaltara mepet-mepet lah.. masih kalimantan juga.. Nah, waktu itu beruntung banget masjid agungnya ngadain sholat gerhana dan lokasinya ada di sebelah hotel, jadi sy dan temen2 (btw tahun 2016, sy bersama 9 teman, sedangkan tahun 2014 saya hanya berdua) pergi sholat gerhana. Momen yang langka sekali dapat ikut sholat gerhana matahari total. (tapi sayang, foto masjidnya kok ga ketemu ya.. padahal masjid agungnya besar dan bagus).

Obyek Wisata

Nah, sebenernya ada byk t4 yg menurut sy bisa dijadikan obyek wisata alami di Kab. Bulungan tp krn jarak cukup jauh dr tj selor, dan memang promosinya bisa dibilang miniiiiim sekali (kalau ga mau dibilang ga ada), makanya ga begitu ngeh juga kalau di sini ada obyek wisata. Waktu kami di hotel dan tanya ke resepsionis nya brosur wisata, mereka ga punya banyak info. Hei plis, hotel yg kami tempati adlh hotel paling hits se Bulungan. Kalau dia aja ga punya apalagi hotel yg kecil ya kan? Eh tp blm tentu ding.

Memang sih, Bulungan ataupun Kalimantan Utara mmg bukanlah destinasi wisata. Di sana tdk ada pantai seheboh pantai2 di Gunung Kidul (Yogyakarta) atau gunung layaknya di Jawa, begitupula danau atau waduk. Di sana itu banyaknya hutan dan sungai. Jadi ya wajar kalau resepsionisnya ga pnya byk info saat kami tanya2 ttg obyek wisata. Untuk lebih lengkapnya nanti saya akan buat postingan sendiri saja tentang obyek wisata di sana.

Sekian dulu ya. besok di sambung lagi 🙂

default

Advertisements
This entry was posted in adventure and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Terdampar di Kaltara (Part 1. Tanjung Selor)

  1. Pingback: Terdampar di Kaltara (Part 2. Wisata dan Jalan-Jalan di Bulungan) | the.miniature.of.life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s