Aku, Ibu, dan Seutas Teh Celup

Suatu hari ibu marah sedih. Aku tidak pernah menduga cuma gara-gara masalah sepele ibu sampai sedih seperti itu. Aku mengatakan “cuma” ya karena menurutku itu masalah sepele sekali dan aku pun tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi memang ya nalar seorang ibu itu beda ya sama anak.

Simple sekali, ini adalah masalah teh celup. Jadi begini, aku menemukan teh celup di kamar kakak kemudian aku bilang ke ibu,”Bu, ternyata kita salah beli teh, jenisnya bukan kaya yang kita beli itu ternyata, tadi aku lihat di kamar kakak ada teh rasa jasmine, pasti itu teh yang ibu minum kemarin dan ibu bilang enak.”

Suatu siang ibu minum teh buatan kakakku. Kata ibu teh celupnya enak, beda seperti biasanya. Malam hari, pas aku dan ibu mau belanja ke supermarket, karena kakakku sedang tidak ada di rumah, ibu mencari petunjuk teh apa yang dibuat kakakku dan akhirnya ibu menemukan ampas teh celup bikinan kakakku tadi di tempat sampah masih dengan tali dan merk nya. Kami pun membelinya, akan tetapi setelah diseduh, rasanya beda. Beberapa hari setelahnya, aku menemukan di kamar kakakku sekotak teh celup. Aku yakin kalau itu sama seperti yang diminum ibuku. Ah,, ternyata merk nya sama tapi varian-nya beda dengan yang terlanjur aku dan ibuku beli.

Ibu tiba-tiba sedih. Bukan, bukan karena salah beli teh, bukan sama sekali, tapi kenapa sekotak teh celup saja harus disimpan di kamar. Simple. simple kan, dan aku pun pernah melakukan itu, membeli makanan dan aku simpan di kamar karena jumlahnya sedikit, rasanya enak, tapi harganya mahal.

Bagi ibuku itu hal besar, hal yang krusial. Menyimpan makanan mau itu murah/enak/mahal/unik/dll di kamar itu menunjukkan kalau orang itu tidak ingin orang lain menemukannya. Karena kalau sampai ketahuan, orang lain akan meminta makananya. Padahal dia sangat ingin menikmati makanan itu sendiri. Pola pikir seperti ini, krusial sekali.

Berapa sih harga makanan itu? Kalau adiknya minta paling juga cuma minta 1-2 bungkus/keping/teguk dan secara nilai kamu cuma kehilangan beberapa rupiah saja, tapi kamu sudah membuat adikmu senang. Apasih artinya kehilangan beberapa rupiah dibanding senyum saudaranya? Sebenernya kalau sang adik mau beli sendiri pun bisa. tapi bukan itu yang disoroti ibuku.

Harganya mahal? oh men, kamu itu berpenghasilan sudah, cukup lagi, dan masih single, sedang adiknya masih sekolah, belum kerja. Dengan keadaanmu yang seperti itu, beli makanan saja harus diumpetin, adiknya tidak dibagi, bahkan kalau bisa jangan sampai adiknya tahu. Ibu semakin sedih..

Ibu bercerita, jaman dulu, ibu selalu bercita-cita jika punya uang akan membelikan sesuatu yang bisa membuat ibu atau adik-adiknya senang, meskipun itu hanya sebungkus kacang goreng. Tapi dia bahagia karena bisa membelikan adik-adiknya makanan enak yang jarang dikonsumsi keluarganya. Begitu juga dengan saudara ibu yang lain. saling membagi. satu untuk bersama. Nilai-nilai seperti itu masih bertahan sampai sekarang, saat semua sudah berkeluarga. Saya punya bulik (sebutan untuk adik dari ibu/bapak) yang sering mengirimi kami makanan, satu mangkuk saja, tidak ada acara apa-apa, hanya ingin berbagi makanan dengan kakaknya sekeluarga. Saya punya Pak dhe, meskipun saat ini beliau tidak sekaya jaman dulu, tetapi beliau selalu ke rumah membagi buah dari halaman rumahnya, padahal ibu saya bisa beli sendiri. Tapi, itulah, itu adalah bentuk kasih sayang kakak kepada adik-adiknya.

Ibu sedih, kalau masih satu rumah saja, tidak akur seperti ini (baginya keadaan seperti ini adalah bentuk ketidak-akur-an), bagaimana kelak ketika sudah berumah tangga masing-masing. Apakah akan peduli ketika saudara kesusahan membeli beras. Apakah akan peduli ketika saudara butuh pinjaman kendaraan untuk membawa istrinya/anaknya ke rumah sakit. Apakah masih akan peduli ketika pakainan keponakan-keponakannya lusuh dan itu-itu saja. Apakah akan peduli ketika saudara terlilit hutang? Sedangkan sekarang saja masih satu rumah, punya barang/makanan murah saudaranya tidak boleh tau apalagi diajak untuk menikmati bersama.

Ibu bercerita tentang salah satu saudaranya. Dia tidak seberuntung saudara-saudaranya yang lain, ekonomi keluarganya tergolong kelas bawah. Ada kalanya di saat kami sekeluarga makan enak, ibu selalu terbayang, “Adikku bagaimana ya di sana, dia sudah makan belum ya?” Ketika kami sekeluarga belanja bulanan, dan kami anak-anak mengambil asal-asalan berbagai macam jenis makanan dan minuman enak yang tidak penting, pikiran ibu jauh menerawang,”Cukup tidak ya uang adikku di sana sekedar untuk beli beras?” Ketika kami sering bergonta-ganti baju, membeli berbagai jenis jaket dan pakaian padahal almari sudah tidak muat lagi, lagi-lagi pikiran ibu langsung melayang ke desa asalnya sana, “Ah, adikku itu tidak pernah beli pakaian bagus; baju, tas, sepatunya saja yang dulu aku beri, sampai sekarang masih dipakai terus.”

“Kamu tau nak? Meskipun dia tidak punya apa-apa, tapi dia punya prinsip tidak akan meminta kepada orang lain meskipun itu kakaknya, iya kakak kandungnya sendiri. Sungguh harga dirinya tinggi sekali. Lalu, kalau kami -saudaranya- masih bertingkah seperti kalian itu, bagaimana kami bisa peka terhadap kesususahan dia, sedang kekurangan saja dia tidak pernah meminta?”

Terima kasih ibu, telah mengingatkan anak-anakmu.. ”Semoga Allah merahmati orang tua yang menolong anaknya menjadi anak yang berbakti” (HR. Ibnu Hibban).

Terima kasih teh celup, karena kau, aku mendapat banyak hal..

Memang benar adanya sebuah hadist, ”Setiap anak yang baru dilahirkan itu lahir dalam keadaan fithrah. Orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi”(HR. Bukhari).

Ku akhiri tulisan ini dengan tetesan air mata,
aku hanya ingin berkumpul bersamamu, bersama keluarga kita, dan bersama orang-orang shalih lainnya🙂

”Dan orang-orang yang beriman yang diikuti oleh keturunan mereka dengan keimanan, Kami akan pertemukan keturunan mereka dengan mereka. Dan kami sedikit pun tidak akan menyia-nyiakan amal (shalih) mereka” (QS. Thur: 21)

Juni, 2014

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Aku, Ibu, dan Seutas Teh Celup

  1. lemoninna says:

    😥
    nek aku punya maeman tak simpen di kulkas (tp ndepis banget, gag ada yang tahu aku nyimpen maeman, bwahaha)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s