Hati-Hati Berbicara

Kalian pernah ga sih ngalami akward moment gitu? Pengalamanku gini nih. Ada murid yg suka nge-message fb aku. Ya karena pas aku ajar dulu dia satu2nya murid yg agak “nglonjak dan caper”. Jadi, ketika saya sudah tidak mengajarnya, dia pun masih menganggap saya teman, bahkan ngobrol dengan sy seperti diumpamakan teman dekatnya.

Biasanya nih anak ABG gini pasti ngomonginnya cowok atau pol mentok ngeluh pelajaran susah dan guru yg menyebalkan. Kalau sudah begini, aku sbg mantan pengajar mereka tidak bisa tinggal diam. Ya, satu dua nasehat lah keluar. Semoga saja mereka ingat, setidaknya ingat, begitupun aku sudah senang!

Karena gini ya, kalian yg pernah bersinggungan dengan dunia pendidikan pasti mau ga mau jadi “care” sama anak didikmu. Seperti ada perasaan tidak rela kalau mereka melangkah ke arah yg salah. Jadi, wajar kalau mereka curhat aneh-aneh, aku sellu pingin comment. Tapi, tidak boleh terpancing, kita tidak boleh terbawa emosi, kita harus netral dan menuntun yg baik.

Misal gini,”Bu, matematika itu susah bgt sih! Kenapa harus ada matematika?!”
Nah, pasti kita gregetan pingin nimpali berdasarkan prngalaman dulu pas sekolah, “iya bener banget tuh! Emang itu matematika susah bgt, mana gurunya biasanya killer2 lagi!”
Stop! Aku bilang stop. Jangan diterusin. Komentar semacam itu adalah angin segar bg muridmu karena km mengiyakan ketidaksukaannya dengan salah satu mapel. Bisa jadi akan terpatri dalam pikirannya kalau MTK itu memang susah!! Karena guru lesnya pun juga bilang gitu! Berarti fix MTK susah tiada tara.  Padahal itu subjektif sekali. Nah, sbg guru yg baik kita harus obyektif. Jangan jadi provokator juga.

Nah, seperti itulah komunikasi dengan anak ABG. Hati-hati, omonganmu bisa jadi tolak ukur mereka. Apalagi kalau kamu gurunya!

Nah, aku pernah mengalami akward moment pas chatingan sama muridku itu. Dia (sebut saja Tulip karena mawar sdh terlalu mainstream) tiba-tiba nge chat dan cerita panjang lebar sambil marah-marah yang intinya dia sebel sama neneknya krn nyuruh nglakuin ini itu untuk persiapan kemah sekolahnya. Aku tidak terlalu ngeh dengan apa yg ditulis pjg lebar oleh Tulip. Spontan sebelum aku berkomentar pjg lebar aku menanyakan alasannya kenapa. Singkat dia jawab. Nah, biasanya agar anak tidak males ngobrol sm kita karena merasa digurui, menasehatinya jgn strict bgt. Itulah, krn biasanya aku pasti lgsg nasehati bla bla bla, kali itu aku hanya komentar “hahaha”. Yaa sebagai awalan sebelum masuk ke serius.. Nah tapi, saat itu aku lebih menyoroti masalah lainya, yaitu masalah kemahnya dia dan ngasih dia pandangan tentang kerennya ikut kemah.

Tiba-tiba aja Tulip ngebales panjang lebar dan “wow” wise banget kata-katanya. Aku pun membalasnya, dan semakin menegaskan “betul sekali itu”, dan nyeletuk,

“waah Tulip bijak banget, belum kemah aja udah bijak apalagi setelah kemah, km kemah terus aja sana..haahaa”

Satu menit dua menit, aku br sadar kalimatnya terlalu bijak. Sekeren2nya Tulip, terlalu tidak wajar kalau dia bisa berkata sebijak itu. Dan sontak aku bertanya, “Ngomong-omong, ini Tulip bukan ya kok kata2nya dewasa sekali?”

Satu menit kemudian ada balasan. Sebelum kubuka, ak sih menduga kalau tadi yg berchatingan dgn ku terakhir itu mamanya, jadi ini pasti balasan dari mamanya.

“Ya bukan laaah, bla bla bla…” dengan penggunaan kalimat yg menunjukkan nada marah.
Panjang lebar dan ternyata itu adalah neneknya yg diomongin di awal tadi! Ya, NENEK-nya yg dibilang nyebelin sama muridku tadi. Ya, NENEK-nya yg menyuruhnya ini itu dan mengatai TULIP $#«%¢¿₩(¥ (sensor) dan aku cuma bilang “hahahahaa..” (- -)”

What the..

Aku cuma bisa melongo😮 dan untuk sekian detik aku tak bisa berkata2. Tapi, bukan aku kalau gitu aja nyerah. Dengan kemampuan kata2 manis aku minta maaf dan menjelaskan duduk perkaranya.

“Ya, anak itu memang kadang perlu di awasi karena omongannya bla bla bla.” Si nenek tidak terima karena menurutnya cerita cucunya kepadaku itu tidak tepat.

Whatever lah, tp jgn marah-marah yaa..aku kan bingung.. Ga kenal lagi. Akhirnya utk sopan santun aku memperkenalkan diri dan bla bla bla >> klik send & close !

Beberapa hari kemudian ada balasan,
“Yaah, sepertinya fb sudah tidak aman bu..”, balas muridku tiba-tiba

Arrrrrgh,,,,, anak jaman sekarang. Cuma gitu doang? Ga ada inisiatif minta maaf kek ke korban yg ga tau apa2 ini  -____-

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s