Titik Permulaan

Adisutjipto International Airport, Maret 2014

Di tempat ini lagi. bukan ayah atau ibu. Tapi saya. Ya, saya kembali ke tempat ini lagi. memang tidak ada yang istimewa dari bandara kecil di kota jogja ini, bangunan yang sederhana dan luas bangunan yang cukup bisa dibilang kecil untuk sebuah bandara international. Namun, ada arti di setiap keberadaanku di sini.

Saya duduk di bangku pojok, di antara keramaian orang lalu-lalang. Antrian penuh di depan mata saya, check in. Ya, ini waktunya check in. Saya duduk, diam, mengamati sekitar. Mulailah sepotong demi sepotong memory mendesak keluar. terangkai.

Adisutjipto, Agustus 2008.

“Sampun nggih pah”, ku jabat erat tangan ayah yang mengantar kepergianku di Bandara Adisutjipto pagi itu. “Ati-ati, Din, aja lali ndonga yo.” Kuanggukkan kepala dan berlalu masuk.

Perasaan deg deg-an campur khawatir pun mulai menyusup. Duh, gimana nih caranya check in. Maklum, pertama kalinya saya masuk ke bandara. sendiri tanpa orang tua. Namun syukurlah, tidak berlalu lama. Setelah melewati pemeriksaan saya bertemu dengan teman-teman di dalam, semua pun berlalu dengan mudah (check in, timbang bagasi, boarding pass, airport tax, hingga masuk ke ruang tunggu). Di dalam ruang tunggu inilah kami semua berumpul. Aksi poto-poto pun dimulai. Yah namanya juga remaja, baru pertama lagi naik pesawat. ndeso sedikit ga papa lah, masa muda tidak akan terulang. Ana, Alit, Oky, Reni, Kiki, Arin, Kartika, dan teman-teman cowok lainya.

Saya tidak pernah terpikir dapat melakukan perjalanan sejauh ini. sedikit pun juga tak pernah terlintas dalam pikiran saya tergabung dalam rombongan ini. Kontingen OSN DIY 2008 bersiap menuju Makasar, Sulawesi Selatan.

Adisutjipto, 26 Januari 2014

Malam ini, untuk ketiga kalinya saya menginjakkan kaki di bandara ini. hanya menjemput  ayah dan ibu di bandara. Perjalanan biasa, dari jakarta, ada acara pernikahan sepupu di sana. Tapi ini tidak biasa. Selama ini, jika ayah pergi ke luar kota atau pulau, kami hanya menjemputnya setelah beliau tiba di kantor. atau bahkan kami tidak perlu menjemputnya karena sudah di antarkan sampai rumah. Malam ini lain. Ya, ini adalah penerbangan dadakan. Ayah dan ibu bertolak balik ke Jogja sesaat setelah tiba di Jakarta. Bersyukur sekali masih ada sisa tiket pada penerbangan malam di hari itu.

Itulah hari di mana satu-satunya simbah yang masih kami punya menutup usia. Ibu dari Ayahku. Nenek yang sedari kecil telah mengasuh kami, mulai dari kakak pertamaku hingga aku usia SD. Beliau yang paham tingkah lakuku dan sepupu-sepupuku. Beliau tahu betul kenalakan-kenakalan yang kami perbuat, karena beliau yang setiap hari memarahi kami.

Tidak hanya satu-dua kenakalan tapi lebih, bahkan tidak dapat dihitung. Bermain-main alat penakar beras simbah (jaman dulu tidak banyak orang yang punya mesin penyimpan beras sekaligus penakar beras). Membuang-buang beras untuk diberikan kepada ayam-ayam di halaman. Ya, kakek saya memiliki peliharaan ayam yang banyak sekali kala itu. Namun, saat itu Indonesia kan swasembada beras, jadi kami pun tidak ada rasa bersalah sama sekali bermain-main beras. Memetik pepaya simbah untuk pasaran, mengambil minyak tanah simbah (hampir setiap hari) untuk pasaran (masak-masakan). Ya, kalau anak lain pasaran hanya sekedar bermain masak-masakan menggunakan daun diiris-iris. saya and the gank benar-benar memasak menggunakan api. Yang dimasak? macem-macem, ada daun antah berantah, mlinjo, daun so, dan beberapa tanaman di halaman rumah simbah. Bahkan kami pernah mengambil telur di kandang ayam tetangga (mohon ini jangan ditiru).

Sebenarnya kami melakukan tindak kenakalan itu tanpa rencana. Berjalan secara spontan saja, alaminya anak lah. Misalkan kami bermain permainan mencari jejak, ketika di tengah jalan kami menemukan hal yang menarik pasti kami ambil. contohnya telur itu. Ketika kami bersembunyi di halaman tetangga, kami melihat ada telur ayam di kandang itu, kami pun tak sungkan-sungkan mengambilnya. heheeee. maafkan kami.

Markas kami di halaman belakang rumah simbah, sudah menjadi rahasia umum orang tua, simbah, pak dhe budhe, dan semua orang di sekitar situ. Kawasan halaman belakang itu sudah menjadi hak paten kami, markas besar kami. Dan Simbah pun tidak pernah melarang kami, mengubah apa-apa, bahkan memindah barang-barang di markas kami, Meskipun setiap hari beliau memarahi kami karena kelakuan konyol kami. Baik kaaaaaan.

Rumah simbah itu, transit kami setelah maghriban di masjid. Beliau paham betul, mas saya selalu membuat es teh di sana, saya selalu mencari sirkaya, sepupu-sepupu juga suka nimbrung kalau saya dan mas saya datang. Sehari kami ga mampir, simbah pasti sudah nanyain kami. Ternyata kami ngangenin :’) . Di rumah simbah itu juga ada pohon jambu biji. itu markas kedua kami. Setiap hari kami menaiki pohon itu. Sudah ada pemetaan hak kepemilikan tempat. Cabang paling rendah itu tempat ku. di depannku menjadi milik Adi Lor. Di atas ku merupakan markas Teguh (Alm), di atas nya tempat nya Mas saya. Di paling pucuk ada Dodi, kadang juga Toro, Adi Kidul. Cabang-cabang itu dipilih karena itu tempat strategis pusat berbuahnya si jambu. Menyenangkan sekali Rumah Simbah.

Sungguh Bandara Adisutjipto malam itu, diliputi suasana berkabung…

“Pinjem KTP-nya”, suara seorang laki-laki menghampiriku. “Ah, iya, bentar”, sambil kucari dompet di tas punggungku, kusodorkan KTP ke tangannya. “Pinjem dulu ya”, sambil berlalu pergi menuju meja check in. Kehadirannya memaksaku membungkus kembali potongan-potongan memory yang tadinya berterbangan keluar.

Lima menit berlalu, boarding pass pun sudah di tangan, kami memasuki ruangan, menunggu penerbangan. Kali ini Singa udara yang akan mengantarkan kami ke pulau seberang, belum rejekinya menaiki Sang Perkasa Garuda :))

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah memberiku kesempatan lagi menginjakkan kaki ini di tanah-Mu yang lain, tanpa hamba harus membebani orang tua.

Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi kah yang akan kamu dustai?

Saya yakin, saya akan ke tempat ini lagi. Tidak tau kapan dan ke mana tujuan. Tapi saya yakin saya akan kembali ke tempat ini lagi. Sebuah titik permulaan segala perjalananku, dulu, saat ini, dan kelak.

Bandara Adisutjipto 17 Maret 2014. Pukul 07.45
Saya Kami pun memulai penerbangan ke petualangan yang kami sendiri pun belum bisa membayangkan.

This entry was posted in adventure and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s