Neighbours [tetangga] #2

ini lanjutan dari postingan yg kemarin..

cerita lain ttg bertetangga,,

Dulu, ayah sering dimintai tolong sama ibu buat memanaskan makanan di kompor. Dijalankan sih, tapi sering lupa untuk mengakhiri. hedeeh. Jadi, selang beberapa menit, tercium bau gosong. Nah, karena dapur rumah ada dibelakang, tetangga saya yg dibelakang suka mencium bau gosong gitu deh, lalu tergesa-gesa ke rumah saya bertanya apakah ada yang terbakar atau sejenisnya sehingga timbul bau gosong?

begitulah, kalau kita tidak punya kedekatan hati dengan tetangga, mana mungkin mau susah-susah ngasih tau.

Tidak cuma saling tolong menolong dalam kesusahan, tapi juga saling berbagi dalam kesenangan. itulah hakikat sejati dalam hidup ini. Iniiiii yang paling aku suka jika kita hidup rukun dengan tetangga kita. kalau mereka punya rejeki lebih, pasti kita ikut kebagian. begitu juga dengan kita, kalau punya rejeki lebih, jangan lupa tetangga2 nya dibagi😀

Rasulullah SAW bersabda, “Hai Abu Zar, jikalau engkau memasak kuah, maka perbanyaklah airnya dan saling berjanjilah dengan tetangga-tetanggamu – untuk saling beri-memberikan”. (HR Muslim)

Jika rumah ketempatan acara misal rapat, pengajian, arisan, atau tadarusan keliling, biasanya kan ada snack atau makannya tuh, biasanya ibu pesan makanannya pasti dilebihkan. Misal tau kalau peserta yang hadir sejumlah 30 orang, pasti ibu pesennya 40 atau bahkan 45. Saya sempet heran, dan suatu saat akhirnya saya bertanya perihal itu pada ibu. Jawaban ibu selalu membuat saya bertambah kagum padanya🙂 [suatu saat nanti akan saya ceritakan ibu saya yang hebat ini!]. Ibu bilang, “ini nanti dibagiin buat tetangga, masa kita ngadain acara, makan enak begini, tetangga ga dikasih, padahal mereka tahu kalau di tempat kita ada acara. Mereka ga bakal minta, mereka paham, tapi ini namanya sopan santun”.

Ayah saya sering sekali tugas dinas di luar kota. dan kalau pulang pasti selalu bawa oleh-oleh. banyak. berkerdus-kerdus. Dulu aku pikir buat apa gitu, apa habis dimakan serumah? belum habis yang ada sudah bosan duluan. Ternyata itu buat dibagi-bagiin. Ya, saking deketnya ikatan pertetanggaan, kita ga ngasih tau aja kadang tetangga udah nanya duluan, “katanya Bapak ke Malang ya?” atau “bapakmu berapa hari ke Kalimantan?” atau begini, “Kok aku ga liat bapakmu, tindak (pergi) ke luar kota po?” dan sejenisnya. wahh hebat sekali kan mereka. Bukan kepo, tapi saya menganggapnya sebuah kepedulian, berarti mereka sadar kalau ayah saya tidak kelihatan di peredaran😀

Nah, kalau begitu masa ya pulang-pulang ga bawain apa-apa. Padahal kalau orang dari luar kota itu pasti beli oleh-oleh. Kalau kata ibu, “ga selalu harus banyak, sedikit-sedikit saja yang rata, yang penting kita berbagi kepada tetangga.” Begitu pula sebaliknya jika mereka baru saja pulang bepergian jauh. Ibu pun selalu berpesan pada saya, “yang penting tetangga paling dekat diberi, kalau masih ada baru belakang-belakangnya”😀

“Wahai Rasulullah, Saya memiliki dua tetangga, siapa yang harus aku beri hadiah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Kepada tetangga yang lebih dekat pintunya darimu?”

Yang aku kadang salut sama tetangga di sini adalah, ga hanya  tetangga kanan kiri saja lo ya, tapi kadang belakangnya, dan belakangnya lagi pun kebagian. satu kompleks lah, karena satu kompleks rumah saya itu benar-benar tidak berbatas pagar, terdiri dari 8 rumah. Masya Allah.

Berkah lainnya, tetangga saya itu punya pohon mangga besaaar banget peninggalan ayahnya dulu. Kalau berbuah masya Allah buanyaknya. Dan kalau panen, pasti tanpa diminta dia akan bagi-bagikan ke tetangga-tetangganya. Ya walaupun tiap rumah cuma dikasih 3 biji mangga, perasaan senangnya itu lo dapet mangga gratis😀 dan yang jelas perasaan senang karena orang lain peduli sama kita itu sesuatu banget. bikin terharu. Barusan kemarin, tetangga saya ngasih jambu air satu tas kresek penuh. Alhamdulillah ya.

Ya, begitulah hidup bertetangga. Jangan sampai menimbulkan rasa iri pada tetangga kita. jangan sampai menimbulkan kecemburuan sosial pada tetangga kita. Kalau saja, tetangga saya yang punya pohon mangga itu ga ngebagi mangganya, pasti adalah timbul kecemburuan, “ih mangga banyak banget gitu kok masa tetangganya ga dikasih, setiap hari saja suara jatuhnya di seng bikin bising ditelinga, pelit amat sih”. hehe.. karena Rasulullah udah pernah berpesan nih, “Saling memberi hadiah lah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam kitab “al-Adab al-Mufrad”).

Oiya, kemarin belakang rumah saya baru saja meninggal dunia. Innalillahi wa innailaihi raji’un. Tanpa perlu dikomando oleh keluarga duka, ibu saya dan tetangga-tetangga yang lain sudah gerak cepat. Mengabari berita ke semua orang, bagaimana pemakamannya, tenda, kursi, dan sebagainya. semua tiba-tiba hadir, semua tiba-tiba membantu. Saudara? bukan. tidak ada ikatan darah. Tapi itulah kerennya. Yang lebih keren lagi, simbah belakang rumah duka, langsung tanggap dan menawarkan diri buat masak. Ya, keluarga duka tinggal memberikan uang buat beli bahan baku, dan semuanya akan beres. dapur darurat pun digelar di halaman rumah simbah itu. Sempat heran juga, buat apa sih masak malam-malam gini? (karena meninggalnya sore). Oo, ternyata ibu-ibu dan simbah-simbah ini berpikir, pasti keluarga duka tidaklah sempat mengurusi diri mereka bahkan sekedar untuk makan, apalagi mengurusi orang-orang yang hadir membantu kerja bakti. Jadi, mereka berinisiatif membuat dapur darurat khusus buat konsumsi keluarga, tamu, dan semua orang yang terlibat dalam takkziah.

Keren? banget, kalau kau tanya pendapatku.

Kau tahu apa rahasianya? baik-baiklah pada tetanggamu niscaya mereka akan baik juga padamu. Rasulullah pun selalu mencontohkan untuk senantiasa berbuat baik dan memuliakan pada tetangga, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tetangganya.” (HR. al-Bukhari).

Satu lagi nih wasiat Rasul buat kita-kita semua biar hidup bertetangga makin maknyuuus, “Sebaik-baik sahabat disisi Allah adalah mereka yang berbuat baik kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga disisi Allah adalah yang berbuat baik kepada tetangganya.”(HR. at-Tirmidzi)

Selamat hidup rukun bertetangga😀😀

semoga Allah senantiasa mencintai kita sebagaimana kita mencintai saudara-saudara kita

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s